Skip to content

sukses adalah sesuatu yang indah jadi untuk mendapatkannya membutuhkan kerja keras

Refresh your mind

Mau menjadi seorang remaja yang benar-benar mandiri???

bagi teman-teman yang sekarang dalam perantauannya dua jempol buat kalian yang udah berani jauh dari keluarga, jauh dari lingkungan dimana kita dibesarkan, tapi kayaknya belum klop deh mandiri yang kita jalankan tapi masih mangku  tangan ke oartu (minta uang jajan), yuk kita jalankan bagaimana mandiri yang sebenarnya, dengan cara yang simple tapi akurat yang sudah banya yang membuktikan, udah banyak anak-anak muda yang udah gak lagi minta uang ke ortu bahkan malah mereka yang ngasi uang ke ortu mereka, mau tau kan rahasia mereka n juga saya bisa sukses mendpatkan uang jajan yang jmlahnya 10 kali lipat jumlahnya dari yang saya dapat dari ortu?????

yuuuuukkkkkk intip rahasia kami di http://www.dbcn-daretobe.com/?id=bismillahbisa

yakin deh caranya gampaaaaaaaaaaaaaang banget dan bisa teman-teman buktikan sendiri hasilnya akan seperti apa. selamat menikamati kebebasan berekspresi ^_^

salam sukses buat kita semua

ALKALOID

BAB I

PENDAHULUAN

 

Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.

Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Alkaloid berbentuk padatan Kristal, amorf atau cairan.

Dari segi biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah kecil asam amino yaitu ornitin dan lisin yang menurunkan alkaloid alisiklik, fenilalanin dan tirosin yang menurunkan alkaloid jenis isokuinolin, dan triftopan yang menurunkan alkaloid indol.

Penelitian di bidang kimia alkaloid tiap tahun selalu berkembang pesat. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah, merupakan gudang bagi tersedianya senyawa-senyawa alkaloid yang berkhasiat, yang siap untuk dieksplorasi dan dieksploitasi oleh para ilmuwan. Dalam usaha mengeksplorasi dan memanfaatkan senyawa  alkaloid ini, perlu ditopang oleh paling tidak oleh tiga pihak yang berkerjasama yaitu pemerintah, dunia industri, dan para ilmuwan. Untuk itu perlu adanya kesamaan persepsi bahwa penelitian adalah investasi. Dengan kesamaan persepsi ini, diharapkan penelitian para ilmuwan tidak mentok pada tahap publikasi ilmiah saja tetapi sampai pada paten dan aplikasi langsung bagi masyarakat.

Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom nitrogen yang tersebar secara terbatas pada tumbuhan. Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae dan jarang pada Gymnospermae dan Cryptogamae. Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan terkadang memiliki struktur kimia yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada dalam satu kelompok.

 

 

BAB II

ISI

 A.   Definisi Alkaloid

Manusia primitive seringkali menggunakan ekstrak akar, daun, bunga, buah, dan biji-bijian sebagai obat. Penggunaan tumbuhan untuk maksud pengobatan tidak mesti berdasarkan ketahyulan atau khayalan. Banayak tumbuhan mengandung senyawa yang berdampak faali yang nyata.Zat-zat aktif dalam banyak bahan tumbuhan ini telah diisolasi dan diketahui berupa senyawa nitrogen heterosiklik.

Banyak   senyawa nitrogen dalam tumbuhan mengandung atom nitrogen basa dan karena itu dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan itu dengan asam encer. Senyawa ini disebut alkaloid yang artinya “mirip alkali.” Setelah ekstraksi, alkaloid bebas dapat diperoleh dengan pengolahan lanjutan dengan basa dalam -air.

B.   PenggolonganSenyawa

Alkaloid dibedakan menjadi dua:

  1. Non heterosiklik atau atypical alkaloid. Atau biasa disebut “proto alkaloid” atau alkaloid biologi
  2. Heterosiklik atau typical alkaloid yang terbagi menjadi 14 bagian menurut struktur cincin mereka.

Alkaloid diambil dari arti luas mereka, ada yang memilii atom nitrogen primer (mescaline), sekunder (efedrin), tersier (atropin) atau kuartener (salah satu atom N dari tubocurarine), dan factor ini mempengaruhi turunan adr alakaloid yang dapat dibuat dan diisolasi. Alkaloid gololongan non-heterosiklik :

 

  • Hordenine or N -methyltyramine In
  • Mescaline, related to tryptamine
  • Ephedrine
  • Colchicine (tropolone nucleus with nitrogen in side-chain)
  • Erythromycin (an antibiotic)
  • Jurubin (steroid with 3-amino group)
  • Pachysandrine A (steroid with N -containing C-17 side-chain)
  • Taxol (sebuah modifikasi diterpene pseudo alkaloid)

 

Alkaloid golongan heterosiklik:

  • Pyrrole and pyrrolidine
  • Pyrrolizidine
  • Pyridine and piperidine
  • Tropane (piperidine/ N -methyl-pyrrolidine)
  • Quinoline
  • Soquinoline
  • Aporphine(reduced isoquinoline/naphthalene)
  • Quinolizidine
  • Indole or benzopyrrole
  • Indolizidine
  • Imidazole or glyoxaline
  • Purine (pyrimidine/imidazole)
  • Steroidal (some combined as glycosides)
  • Terpenoid


 C.   Alkaloid Lisina

Sebagai homolog ornithine, lisin dan senyawa yang terkait menimbulkan sejumlah alkaloid, beberapa yang analog dengan kelompok ornithine.

  1. Struktur alkaloid lisina

 

2. Contoh tanaman

  • Lobelia; Lobelia inflate (Campanulaceae); Lobeliae Herb

Kegunaan: stimulant, spasmodic asma, bronchitis kronik.
(alkaloid piridin-piperidina)

 

  • Pomegranate; Punica granatum L.( Punicaceae); Punicae fructus
    kegunaan: antioxidant, anti malarial, dan anti microbial tannin fraction, allagitanin dan phenolic . (alkaloid trepenoid)

 

  • Broom; Cytisus scoparius (Leguminosae); BHP 1988 dan BPC 1949.

For: mild diuretic dan cathartic action. (alkaloid quinolizidine dan volatile liquid alkaloid)

  • Pepper; Piper nigrum(Piperaceae);mengobati gonorrhea dan bronchitis kronik.
  • Lycopodium; Lycopodiumclavatum (Lycopodiaceae); batas tertentu dalam bedak tabur dan tembakau dan obat dalam bentuk pil.

D.   Alkaloid Phenylalanine

    1. Struktur phenylalanine

Alkaloid phenyilalanin dan tyrosine adalah alkaloid yang merupakan precursor dari alkaloid amina.Beberapacontohdari alkaloid ini:

 

a. Ephedrin; Ephedra sinica, E. equisetina

                  

b. Colchicum autumnale

Kegunaan: umbi dari Colchicum autumnale berisi colchicine, obat yang bergunauntukterapeutik.

 

1)        d-Norpseudo Efedrin

T. Asal                    : Cathaedalis

Suku                      : Celastraceae

Simplisia               : KhatAbyssina (Daun-daunsegar)

Kegunaan             : Stimulansia SSP

2)        Meskalin

T. Asal                    : Laphophorawiliamsii

Suku                      : Liliaceae

Simplisia               : Feyote

Kegunaan             : Halusinasi,Euforia

  1. E.   Alkaloid Tyrosine
    1. Gambar Struktur Tyrosine

a.    Abyssinian tea; Catha edulisF. (Celastraceae)

Kegunaan :Efek stimulant.

b.    Peyote;  Lophophora williamsii  (Cactaceae)

Kegunaan: sakitgigi, nyeri saat melahirkan, demam, nyeri payudara, penyakit kulit, rematik, diabetes, pilek, dan kebutaan.

 

 

 

 c.    Daun Boldo; Peumusboldus  (Monimiaceae)

Kegunaan : Antihepatoksik

 F.  Alkaloid Dihydroxyphenylalanine

Dihdroksilfenilalanin atau biasa disebut dengan dopa merupakan senyawa bentukan dari tirosin.

  1. Gambar Struktur Dihydroxyphenylalanine

2. Contoh simplisia dihidroksiphenylalanin :

a.     Velvet bean; Mucuna pruriens (Phaseoleae); Mucuna pruriens Seed.

Kegunaan : bias digunakan olahan kecap

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mann, J.,1994, Natural Products: Their Chemistry and Biological Significance, Longman Group, UK.

Robbers, James E. and Marilyn K. Speedie and Varro E. Tyler, 1996, Pharmacognosy  and pharmacobiotechnology, Williams & Wilkins, United States of America.

Si Mungil yang Serbaguna

Si Mungil yang Serbaguna (Apel)

Apel, , ,siapa sich yang gak kenal sama buah yang satu ini. Selain rasanya yang enak ternyata manfaatnya banyak sekali, karena apel sendiri mempunyai banyak kandungan seperti vitamin, mineral serta unsur lain seperti fitokimia, serat, tanin, baron, asam tartar, dan lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.

Yukkk . . . kita telaah lebih jauh terkait si mungil yang serba guna ini.

Apel (Malus sylvestris Mill)

Orang mulai pertama kali menanam apel di Asia Tengah. Kini apel berkembang di banyak daerah di dunia yang suhu udaranya lebih dingin.Nama ilmiah pohon apel dalam bahasa Latin ialah Malus domestica. Apel budidaya adalah keturunan dari Malus sieversii asal Asia Tengah, dengan sebagian genom dari Malus sylvestris (apel hutan/apel liar).

Apel lebih bagus dikonsumsi mentah-mentah, tapi tenang ajja bagi teman-teman yang mungkin ada nich yang gak suka sama si buah mungil serba guna ini, bisa juga di konsumsi dalam sediaan lainnya seperti, jus, sale apel, kripik, bahkan saus juga ada lhooooo🙂

Kandungan Buah Apel

Vitamin

Buah apel kaya akan kandungan vitamin. Beberapa vitamin yang terdapat dalam buah apel misalnya vitamin A, vitamin B1vitamin B2vitamin B3vitamin B5vitamin B6vitamin B9vitamin C. Sebagaimana kita ketahui bahwa vitamin adalah zat yang sangat dibutuhkan tubuh kita untuk melakukan proses metabolisme dalam tubuh. Namun, manfaat vitamin tersebut tidak dapat diperoleh tanpa asupan makanan dengan kandungan vitamin yang cukup. Jadi sebagai salah satu alternativenya lagi-lagi saya sarankan untuk mengonsumsi minimal satu buah apel sehari🙂

Mineral

Mineral dalam buah apel antara lain kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan zinc. Dimana kita ketahui bahwa semua mineral tersebut tidak kalah pentingnya dengan vitamin, contohnya saja kalsium sangat dibutuhkan oleh  tubuh antara lain untuk metabolisme , penghubung antar saraf, kerja jantung, dan pergerakan otot.

Fitokimia

Buah apel juga mengandung fitokimia. Fitokimia merupakan antioksidan untuk melawan radikal bebas yang berasal dari polusi atau lingkungan sekitar. Zat ini juga berfungsi untuk menekan jumlah kolesterol jahat (LDL) yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.

Serat

Apel kaya akan serat, sehingga baik untuk orang yang sedang dalam program diet.. Hal ini disebabkan karena serat yang tinggi sehingga mencegah lapar datang lebih cepat. Serat pada apel berguna mengikat lemak dan kolesterol jahat dalam tubuh untuk selanjutnya dibuang. Nah bagi teman-teman yang ingin diet tapi tetap sehat, yuk konsumsi apel setiap hari, satu buah apel/hari cukup kog.

 

Pohon apel (Malus domestica)

Bagaimana???? Takjubkan dengan manfaat si buah mungil yang serbaguna ini??? Oleh karenanya kenapa tidak untuk mengonsumsi minimal satu buah apel sehari. Karena ada banyak kebenaran dibalik pepatah lama yaitu, “ An apple a day keeps the Doctor’s away.” (satu buah apel setiap hari, menjaga dokter tidak kemari)

UJI RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA MENGGUNAKAN METODE DIFUSI

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

UJI RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA MENGGUNAKAN METODE DIFUSI

(Antibiotic Suspectibility Testing)

Disusun Oleh :

Kelompok B1

Riyan Haryadi ( 09613011 )

Dewi Shinta Mandela ( 09613024 )

Nike Fitri Adriaan ( 09613061 )

Dellyna Feranica Manik ( 09613076 )

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2011

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Tujuan

Dapat melakukan uji aktivitas antimikrobia dengan menggunakan metode difusi cara cakram kertas (disk method).

1.2  Latar Belakang

Resistensi terhadap antibiotika adalah fenomena yang alami. Bila suatu antibiotika digunakan, bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat terus hidup daripada bakteri lain yang lebih “rentan.” Bakteri yang rentan akan dapat dibasmi atau dihambat pertumbuhannya oleh suatu antibiotika, menghasilkan suatu  tekanan selektif terhadap bakteri lain yang masih bertahan hidup untuk menciptakan turunan yang resisten terhadap antibiotika. Namun demikian, bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika dalam jumlah yang sangat tinggi sekarang ini disebabkan karena adanya penyalahgunaan dan penggunaan antibiotika secara berlebihan. Di beberapa negara dan melalui internet, antibiotik dapat dibeli tanpa adanya resep dokter. Pasien kadang-kadang minum antibiotik meskipun ia tidak membutuhkannya, untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti selesma(1).

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar ke anggota keluarga, teman ataupun tetangga lain sehingga mengancam masyarakat akan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya pengobatannya(2).

 

 

1.3. Tinjauan Pustaka

Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander Fleming pada tahun 1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940, maka antibiotika bisa dibilang merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan & kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis(1).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik. Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal dan tidak mati walau diberi antibiotik(2). Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis, yaitu (1) resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteri Staphylococcus       yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu; (2) resistensi sekunder, yaitu karena adanya muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten; (3) resisten episomal atau plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis; serta (4) resistensi silang, yaitu resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum dalam waktu singkat(3).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek antibiotic. Resistensi antibiotic terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi. Akibatnya bakteri tersebut dapat bertahan hidup dan bereproduksi sehingga makin membahayakan. Bakteri tersebut dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat adanya anggapan bahwa yang resisiten terhadap obat tertentu adalah tubuh orang, padahal sebenasrnya bakteri yanag ada di dalam tubuh tersebutlah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan tubuhnya(2).

Antibiotik menghentikan atau mengganggu sejumlah proses seluler sehari-hari yang mengandalkan bakteri untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup, seperti:

  • melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
  • mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan asam amino
  • mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
  • memblokir sintesis DNA dan RNA (1)

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai indikator pengujian. Dalam hal ini mikroorganisme digunakan sebagai penentu konsentrasi komponen tertentu pada campuran kompleks kimia, untuk mendiaknosis penyakit tertentu tertentu, serta untuk menguji bahan kimia guna menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan. Macam-macam uji yang dapat dilakukan adalah uji antibiotik/antimikroba, bioautografi, uji vitamin dan asam amino, uji ames, dan penggunaan mikroorganisme sebagai model metabolisme obat mamalia (4).

Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan  yang efektif dan efesien. Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti yang dijelaskan berikut ini:

Metode difusi

  • Metode disc diffusion (tes Kirby dan Bauer) untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba permukaan media agar. (lihat gambar)

 

  • E-test

Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitory concentration) atau KHM (kadar hambat minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghabat pertumbuhan mikroorganisme.

Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakkan permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.(lihat gambar)

 

  • Ditch-plate technique

Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji ( maksimum 6 macam ) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba.

  • Cup-plate technique

metode ini serupa dengan mitode disc diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.

  • Gradient-plate technique

Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media agar secara teoretis bervariasi dari 0 hingga maksimal. Media agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituang kedalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua selanjutnya dihitung diatasnya.

Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan media mengering. Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi tinggi ke rendah. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan.

Bila: X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media mg/mL atau μ/mL,

Maka konsentrasi hambatan adalah: [(X.Y)]: C mg/mL atau μg/mL.

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat(4).

 

 

BAB II

METODE PERCOBAAN

 

2.1.      ALAT DAN BAHAN

 

            Alat :

ü    Tabung reaksi

ü    Cawan petri

ü    Mikro pipet

ü    Blue & yellow tip

ü    Erlenmeyer

ü    Beaker glass

ü    Autoclave

ü    Laminar Air Flow (LAF)

ü    Lampu spiritus

 

Bahan :

ü    Nutrient agar

ü    Mikroba uji (feces)

ü    Paper disk yang mengandung : Amoxicillin, Ampicillin, Gentamicin,       Sulfametoksazon

 

 

2.2.      CARA KERJA

Disiapkan mikroba uji yang akan digunakan (mikroba uji dari hasil persiapan pada praktikum sebelumnya)

Disiapkan dan disterilisasi 50 ml media nutriet agar dalam erlenmeyer

Masing-masing kelompok membuat dua media nutrient agar

Media nutrient agar, yellow & blue tip, serta cawan petri di sterilisasi dengan autoclave selama 15 menit dengan suhu 1210C

Setelah agak dingin ditambahkan 200µl mikrobia uji dalam LAF, dihomogenkan

Dituang dalam petri steril, ditunggu sampai beku

Pada petri pertama, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Sulfametoksazol dan ampicillin serta blanko sebagai control negatif

Pada petri kedua, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Amoxicillin dan Gentamicin serta blanko sebagai control negatif

Diinkubasi 37oC selama 24 jam

Diinterpretasikan hasil dengan antibiogram

Diukur diameter  hambatannya untuk masing-masing sampel/antibiotik dengan masing-masing mikrobia uji

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. HASIL PERCOBAAN

Jenis / jumlah sample         : Feces / 200 µl

 

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan electric counter

(Terlampir)

 

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan jangka sorong

Ukuran paper disk = 6mm

  1. Sulfametoksazol = 2,03 cm = 20,3 mm

Zona hambat = 20,3 – 6 = 14,3 mm

  1. Ampicillin = (tidak bereaksi)
  2. Amoxicillin = 0,61 cm = 6,1 mm

Zona hambat = 6,1 – 6 = 0,1 mm

  1. Gentamicin = 1,01cm = 10,1 mm

Zona hambat = 10,1 – 6 = 4,1 mm

 

3.2 PEMBAHASAN

            Pada praktikum kali ini dilakukan uji resistensi bakteri terhadap antibiotika menggunakan metode difusi yang bertujuan agar dapat melakukan uji aktivitas mikrobia dengan menggunakan metode difusi cara sumuran dan cakram kertas (disk method), dapat melakukan uji aktivitas antimikrobia dengan menggunakan metode dilusi cair maupun dilisi padat.

Siapkan mikroba uji yang akan digunakan yang berasal dari paktikum sebelumnya, kemudian dibuat media nutrient agar sebanyak 50 ml yang akan di bagi ke dalam 2 erlenmeyer, lalu disterilisasi di dalam autoklaf. Setelah disterilisasi media yang masih mencair ditambahkan dengan 200 µl mikroba uji, dihomogenkan. Lalu dituangkan kedalam petri steril. Penuangan dilakukan di dalam LAF yang sudah disterilisasi sebelumnya. Ditunggu sampai beku. Setelah beku pada petri pertama dipasang paper disk yang mengandung antibiotic sulfametoksazol dan ampisilin, juga paper disk blanko. Pada petri kedua dipasang paper  disk yang mengandung antibiotic amoksisilin dan gentamisin, juga paper disk blanko. Kemudian kedua petri dimasukkan dalam incubator selama 18-24 jam pada suhu 27o C. Metode ini dinamakan metode Kirby-Bauer. Pada saat pemasangan paper disk sedikit ditekan agar tidak jatuh saat dimasukkan kedalam incubator secara terbalik.

Ada beberapa macam metode untuk uji resistensi bakteri, antara lain :

  1. Metode dilusi. Prinsipnya yaitu antibiotic diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi.
    1. Dilusi cair. Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan suspensi kuman atau bakteri didalam media.
    2. Dilusi padat.  Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan media agar, lalu ditanami bakteri.
    3. Metode difusi
      1. Kirby-Bauer. Menggunakan kertas disk yang sudah mengandung antibiotic dan diketahui konsentrasinya.
      2. Sumuran. Pada media agar ditambahkan suspensi bakteri, kemudian dibuat lubang ditengah dan ditetesi antibiotic.
      3. Pour plate. Suspensi bakteri diambil menggunakan ose lalu dimasukkan dalam media agar, setelah beku digunakan disk antibiotik diatasnya.
      4. E-test. Menggunakan plastic strip yang mengandung antibiotic yang sudah diketahui konsentrasinya.
      5. Gradient test. Seperti cara sumuran hanya saja lubang yang dibuat menyerupai garis tengah, sehingga media pada petri terbelah dua.

Hari berikutnya dilakukan pengukuran diameter hambat dari masing-masing antibiotic menggunakan jangka sorong dan diperoleh data : zona hambat sulfametoksazol 14,3 mm ; amipisilin 0 mm ; amoksisilin 0,1 mm ; gentamisin 4,1 mm. Dan juga dilakukan pengukuran zona hambat dengan menggunakan electric counter dan diperoleh data :  zona hambat sulfametoksazol 21,5 mm ; amipisilin 0 mm ; blanko 1 8,5 mm ; amoksisilin 10,0 mm ; gentamisin 19,3 mm ; blanko 2 8,5 mm.

Pada data terdapat antibiotik yang tidak bisa menghambat pertumbuhan bakteri dikarenakan antibiotik yang digunakan tidak spesifik terhadap bakteri yang ditanam didalam media, ataupun terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut dengan berbagai mekanisme.

Mekanisme kerja antibiotik antara lain :

  1. Menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga menghambat perkembang biakan dan  menimbulkan lisis. Contoh : penisilin dan sefalosforin.
  2. Mengganggu keutuhan membrane sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan kehilangan cairan intraseluler. Contoh : nistatin.
  3. Menghambat sintesis protein sel bakteri. Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin.
  4. Menghambat metabolisme sel bakteri. Contoh : sulfonamide.
  5. Menghambat sintesis asam nukleat. Contoh : rifampisin dan golongan kuinolon. (5)

Sifat antibiotik sebaiknya menghambat atau membunuh mikroorganisme patogen tanpa merusak inang, bersifat bakterisid, tidak menyebabkan resistensi pada kuman, tidak bersifat alergenik  atau tidak menimbulkan efek samping bila digunakan dalam jangka waktu lama, larut dalam air, serta stabil (6).

BAB IV

                                                                KESIMPULAN

zona hambat sulfametoksazol 14,3 mm ; amipisilin 0 mm ; amoksisilin 0,1 mm ; gentamisin 4,1 mm. Dan juga dilakukan pengukuran zona hambat dengan menggunakan electric counter dan diperoleh data :  zona hambat sulfametoksazol 21,5 mm ; amipisilin 0 mm ; blanko 1 8,5 mm ; amoksisilin 10,0 mm ; gentamisin 19,3 mm ; blanko 2 8,5 mm.

 

 


BAB V

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vorber,  auf die eingeschr,  Hpüber- prüfg,  Staatl, zugel,  Fernlehrgang, 2010, Bahaya Resisitensi Antibiotika, www.Impulse-Schule.de. Diakses pada tanggal 25 oktober 2011.

 

  1. Aryulina, Diah, dkk., 2006, Biologi 3, Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

  1.  Syamsuni, H., Drs., 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit EGC, Jakarta.
  2. Betina, V., 1983, The chemistry and Biology of Antibiotics, Scientific Publishing Company, New York.
  3. Rostinawati, Tina, 2009, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella Terhadap E. Coli, S.Aureus Dengan Metode Difusi Agar, UNPAD, Bandung.
  4. Syahrurrahman, A.,dkk.,1994, Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

 

TRANSKRIPSI EUKARIOTIK

MAKALAH

TRANSKRIPSI EUKARIOTIK

 Disusun Oleh:

  • Dewi Shinta Mandela             (09613024)
  • Agus Salim                              (09613131)
  • Mawaqit Makani                     (10613052)
  • Bestoro Qoyyuman                 (10613251)
  • Putri Kusuma Wardani           (10613259)
  • Nofran Putra Pratama                         (10613272)
  • Agus Sri Handayani                (10613283)
  • Ihin Solihin                             (10613295)
  • Khittah Dea Anissa                 (10613303)
  • Indah Wahyutri                       (10613320)

 

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam istilah biologi molekuler dikenal istilah Dogma Sentral Biologi Molekuler. Dogma sentral adalah suatu kerangka kerja untuk dapat memahami urutan transfer informasi antara biopolymer (DNA, RNA, protein) dengan cara yang paling umum dalam organisme hidup. Sehingga secara garis besar, dogma sentral maksudnya adalah semua informasi terdapat pada DNA, kemudian akan digunakan untuk menghasilkan molekul RNA melalui transkripsi, dan sebagian informasi pada RNA tersebut akan digunakan untuk menghasilkan protein melalui proses yang disebut translasi1.

Transkripsi merupakan tahapan awal dalam proses sintesis protein yang nantinya proses tersebut akan berlanjut pada ekspresi sifat-sifat genetik yang muncul sebagai fenotip. Dan untuk mempelajari biologi molekuler tahap dasar yang harus kita ketahui adalah bagaimana mekanisme sintesis protein sehingga dapat terekspresi sebagai fenotip1.

Transkripsi adalah proses sintesis molekul RNA pada DNA templat. Pada organisme eukariotik proses ini terjadi pada inti sel/nukleus. Sedangkan pada organisme prokariotik berada di sitoplasma karena tidak memiliki inti sel (tepatnya pada kromosom)1.

Dalam proses transkripsi, RNA disintesis menggunakan DNA sebagai cetakan.Maka penyalinan DNA ke RNA belum mampu menerangkan bahwa informasi genetik dalam bentuk DNA telah diekspresikan. Jauh sebelum DNA diidentifikasi sebagai pembawa informasi genetik, telah diketahui bahwa protein dalam bentuk enzim merupakan mesin-mesin sel yang terlibat dalam berbagai reaksi biokemis. Setelah penelitian Jacob dan Monod (1961) mengidentifikasi peranan molekul antara yang labil keberadaannya maka terbangun suatu hubungan konsepsional penterjemahan informasi dari urutan basa DNA ke dalam urutan asam amino protein, atau struktur primer protein2.

Kedua asamnukleat menggunakan bahasa yang sama dan informasinya tinggal ditranskripsi(disalin) dari satu molekul ke molekul yang lain. Persis sebagaimana saat prosesreplikasi, untai DNA menyediakan suatu cetakan (template) untuk sintesis untaikomplemen terbaru, pada transkripsi juga disediakan template untuk menyusun RNA. Molekul RNA yang dihasilkan merupakan transkrip penuh dari perintah pembangun protein dari gen tersebut. Jenis molekul RNA ini disebut RNA messenger (mRNA).

 

  1. Anonim. 2010. Proses Ekspresi Gen dalam OrganismeBagian 1. Available at http://netsains.com/2010/03/proses-ekspresi-gen-dalam-organisme-bagian-1/ (diakses tanggal 10 Desember 2011)
  2. Sarmoko. 2011. From Gene to Protein, Molecular Biology 2011. Departmen of Pharmacy Unsoed. Yogyakarta
  3. e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

Transkripsi adalah pembentukan mRNA (messenger RNA/RNA duta) dari salah satu pita DNA dengan bantuan enzim RNA polimerase. mRNA membawa pesan DNA untuk memilih polipetida yang sesuai dalam sintesis protein. Pilinan DNA membuka sebagian salah satu rantainya (rantai sense) akan membentuk rantai penggenap (ARN duta) yang berisi kode genetik/kodon. Setelah ARN duta terbentuk, kemudian melepaskan diri dari DNA dan berpilin kembali.(Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (provider: Putri Kusuma Wardani/10613259).

Gambar Transkripsi

(Pembentukan mRNA (messenger RNA/RNA duta) dari salah satu pita DNA dengan bantuan enzim RNA polimerase. mRNA membawa pesan DNA untuk memilih polipetida yang sesuai dalam sintesis protein. Pilinan DNA membuka sebagian salah satu rantainya (rantai sense) akan membentuk rantai penggenap (RNA duta) yang berisiko degenetik/kodon. Setelah RNA duta terbentuk, kemudian melepaskan diridari DNA danberpilinkembali.)

(DNA yang berada di nukleus akan berikatan dengan RNA polimerase. Terbukanya rantai DNA memicu RNA polimerase melekat ke daerah yang dinamakan dengan promotor)

(Enzim RNA polimerase (RNAP) mengatalisis ribonukleotida menjadi rangkaian RNA yang bersifat komplementer terhadap untai pengkode dan melokalisasi promoter. Enzim ini akan berikatan dengan promoter pada untai cetakan, kemudian akan diikuti oleh proses inisiasi sintesisRNApada titik mula, elongasi rantaiRNA, hingga tercapai rangkaian terminasi. Terbentuknya mRNA maka terjadilah transkripsi pada inti sel. mRNA akan membawa informasi genetik yang ada pada DNA menuju ribosom)

(mRNA yang terbentuk selanjutnya akan dipindahkan dari inti menuju ribosom, kemudian diterjemahkan menjadi protein di ribosom)

Didalam transkripsi terdapat bagian-bagian gen, yaitu upstream, transcribed, dan downstream yang memiliki fungsi masing-masing. (Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

  1. Upstream yaitu awal terjadinya transkripsi (stimulus dimulainya proses transkripsi). Pada proses ini enzimRNApolimerase (RNAP) akan mengkatalisis polimerase ribonukleotida menjadi rangkaianRNAyang bersifat komplementer terhadap untai cetakan gen. Enzim ini akan berikatan dengan promoter pada untai cetakan, kemudian akan diikuti oleh proses inisiasi sintesisRNApada titik mula,elongasi rantaiRNA, hingga tercapai rangkaian terminasi.
  2. Transcribed yaitu proses dimana terjadi kompleks RNAP pada transkripsi. Dengan adanya ATP+XTP akan terbentuk inisiasi rantai RNA yang kemudian terjadi pelepasan faktor sigma yang selajutnya akan terbentuk elongasi rantai RNA.
  3. Downstream adalah proses terjadinya terminasi dan pelepasan rantai. Saat rantai RNA telah lengkap maka RNAP akan dilepas dari cetakan.

Dalam biosintesis RNA, pemanjangan rantai nukleotida berlangsung arah 5′ à 3′ RNA, dikatalisis oleh suatu enzim, yang diberi nama RNA polimerase. Sewaktu RNA polimerase berinteraksi dengan promotor di daerah pengawalan dari suatu gen, maka sintesis RNA dimulai pada titik berangkat (startpoint), bergerak sepanjang DNA cetakan, dan menyalin salah satu rantai DNA cetakan (coding sequence) ke dalam rantai RNA hingga mencapai urutan DNA yang disebut terminator. Hasilnya adalah suatu molekul tunggal RNA yang disebut terjemahan utama (primary transcript).(Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Dari titik pengawalan sampai ke terminator didefinisikan sebagai satuan transkripsi, dan dapat mencakup lebih dari satu gen. Urutan DNA sebelum titik pengawalan transkripsi disebut hulu (upstream) dan urutan DNA setelah terminator disebut hilir (downstream). Terkadang, urutan DNA ditulis hanya menunjukan daerah yang mengandung sandi, yang sama dengan urutan RNA. Posisi basa dalam DNA itu dinotasi mulai dari titik pengawalan sebagai +1 membesar ke arah hilir. Notasi sebelum titik pengawalan adalah -1 kemudian bilangan negatif meningkat ke arah hulu. (Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

mRNA sebagai terjemahan utama bersifat tidak stabil. Dalam prokarion, mRNA mudah dihancurkan atau diproses membentuk hasil akhir yang matang. Dalam eukarion, mRNA dimodifikasi pada ujung-ujungnya, dan semua jenis RNA diproses ke arah pematangan dengan membuang sub-sub perintah yang memungkinkan setiap RNA berfungsi secara seluler. (Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Transkripsi yang dipercepat reaksinya oleh RNA polimerase, berlangsung dalam apa yang disebut gelembung transkripsi (trancription bubble), yaitu daerah dimana ikatan hidrogen dalam DNA dilelehkan sementara. Gelembung transkripsi, yang berukuran ~18 pb itu, bergerak sejalan dengan bergeraknya RNA polimerase meneliti dengan cermat dan membaca salah satu rantai DNA yang mengandung sandi (coding region) serta menyalinnya ke dalam rantai tunggal RNA. Sewaktu RNA disintesis, terbentuklah hibrida RNA-DNA yang diprediksi (berdasarkan struktur RNA dalam kompleks RNA-RNA polymerase) berukuran lebih pendek dari gelembung transkripsi, sekitar ~12 pb. (Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Eksperimen pemotongan RNA dalam kompleks RNA-RNA polimerase oleh ribonuklease bahkan menunjukan bahwa RNA dapat dipotong sampai sedekat 3 basa dari titik pertumbuhan RNA, yang menunjukkan bahwa asosiasi RNA pada DNA hanya sekitar 2-3 basa saja. Lebih pendek dari itu, RNA melakukan pengikatan sangat kuat dengan RNA polimerase. Jadi, kompleks sementara RNA-DNA berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan dalam ukuran yang sangat pendek, yang hanya cukup untuk memberikan keadaan mantap kepada hibrida RNA-DNA yang menentukan spesifisitas penambahan nukleotida. Sewaktu RNA polimerase bergerak maju, ikatan hidrogen yang ada pada bagian belakang gelembung transkrip berpasangkembali. RNA yang terbentuk bergerak bebas kecuali sekitar 25 nukleotida masih tetap berasosiasi dengan kompleks enzim, dan mungkin berada pada saluran yang berukuran ~25Å di dalam RNA polimerase. (Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Semua asam-asam nukleat disintesis dari senyawa prekursor, nukleosida 5′ trifosfat, melalui reaksi kondensasi antara gugus 5′ trifosfat dari nukleotida yang datang mendekat pada kompleks DNA-RNA polimerase dengan gugus 3′-OH dari nukleotida terakhir yang ditambahkan ke dalam rantai RNA yang baru dibentuk. Akibat serangan nukleofilik ini, nukleotida yang datang kehilangan 2 gugus fosfat terminal (g dan b). Gugus fosfat pada posisi a digunakan dalam pembentukan ikatan fosfodiester dengan rantai RNA yang sedang disintesis. Dengan demikian, rantai RNA disintesis dari ujung 5′ kearah ujung 3′, dengan kecepatan reaksi ~40 nukleotida/detik pada suhu 37oC pada RNA polimerase bakteri. Reaksi ini jauh lebih lambat ketimbang replikasi DNA, yang berlangsung dengan kecepatan 800 pb/detik.(Perumus : Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Sambutan (acceptability) nukleotida yang datang ke dalam kompleks transkripsi didasarkan pada kecocokannya dengan salah satunya adalah tiga pasangan basa (kodon) yang ada dalam rantai DNA. Nukleotida yang datang itu mungkin mengalami supervisi dari RNA polimerase, untuk dilihat apakah nukleotida yang datang sesuai atau tidak. Ikatan fosfodiester iniakan terjadi hanya apabila terdapat kecocokan dengan komplek RNA polimerase-DNA. Jika syarat kecukupan tidak dipenuhi maka nukleotidanya dilempar keluar kompleks transkripsi. Dengan demikian, diskriminasi berlangsung dan videlitas dijaga, namun tidak hanya didasarkan pada berpasangannya basa nukleotida, karena beberapa senyawa analog dapat disambut dengan baik dan menjadi bagian dari RNA.(Perumus : Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma Wardani/10613259).

Proses transkripsi dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan: (1) Tahapan pengakuan cetakan (template recognition), (2) Tahapan pengawalan (initiation), (3) Tahapan pemanjangan (elongation), dan (4) Tahapan pengakhiran (termination).

  1. a.      Tahapan pengakuan cetakan, RNA polimerase membentuk kompleks dengan rantai ganda DNA, ikatan hidrogen dilelehkan, dan menciptakan gelembung transkripsi. Daerah yang dibutuhkan oleh RNA polimerase membentuk kompleks dengan rantai ganda DNA disebut promotor.
  2. b.      Tahapan pengawalan mendeskripsikan pembentukan ikatan nukleotida pertama dalam RNA. Enzim RNA polimerase tetap berada di daerah promotor sambil mensintesis ~9 nukleotida pertama. Namun demikian, pembentukan nukleotida pendek ini terkadang mengalami keguguran (abortion), yaitu: enzim mensintesis transkrip kurang dari 9 basa, melepaskannya kembali, dan memulai kembali mensintesis RNA baru. Tahapan pengawalan berakhir apabila enzim mampu mensintesis rantai RNA baru melewati batas panjang ini.
  3. c.       Tahapan pemanjangan adalah selang selama enzim bergerak sepanjang DNA cetakan dan memperpanjang rantai RNA. Sambil ia bergerak, ia membuka rantai ganda DNA dan menyingkapkan sandi rantai tunggal DNA dengan nukleotida-nukleotida yang datang menyerang ujung  3′ dari rantai RNA yang sedang mengalami pemanjangan, membentuk molekul hibrida RNA-DNA di daerah yang dibuka gulungannya. Persis dibelakang gulungan DNA yang terbuka ini, rantai tunggal DNA berpasangan kembali membentuk rantai ganda dengan pasangan aslinya. RNA kemudian muncul sebagai rantai tunggal yang bebas, yang ujung pemanjangannya masih terkait dengan kompleks DNA-RNA-enzim.
  4. d.      Tahapan pengakhiran melibatkan pengakuan titik dimana tidak ada lagi basa yang ditambahkan ke dalam rantai. Untuk mengakhiri transkripsi, pembentukan ikatan fosfodiester harus dihentikan, dan kompleks transkripsi harus dibubarkan. Sewaktu nukleotida terakhir ditambahkan akan diikuti oleh runtuhnya gelembung transkripsi, dan dilepaskannya hibrida RNA-DNA. DNA kembali ke keadaan rantai ganda, RNA dan enzim dibebaskan. Urutan basa nukleotida dalam DNA yang digunakan agar terjadinya pengakhiran transkripsi disebut terminator. (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

Berbeda halnya dari organisasi gen pada prokaryot yang pada umumnya bersifat polisistronik, gen-gen pada jasad eukaryot bersifat monosistronik, artinya satu transkrip yang dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi. Pada jasad eukaryot tidak dikenal adanya sistem operon karena satu gen struktural dikendalikan oleh satu promoter. Gen-gen eukaryot tersebar pada beberapa kromosom. Banyak gen eukaryot yang bagian strukturalnya berselang-seling antara sekuens yang mengkode satu uratan spesifik (ekson) dan sekuens yang tidak mengkode uratan spesifik (intron). (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

Tidak seperti pada prokaryot, pada jasad eukaryot terdapat tiga macam RNA polimerase yang bertanggung jawab di dalam proses transkripsi tiga kelas gen. Pada eukaryot dapat dibedakan tiga kelas gen, yaitu: (1) gen kelas I (ditranskripsi oleh RNA polimerase I), meliputi gen-gen yang mengkode 18S rRNA dan 28S rRNA, dan 5,8S rRNA, (2) gen kelas II (ditranskripsi oleh RNA polimerase II), meliputi semua gen yang mengkode protein dan beberapa RNA berukuran kecil yang terdapat di dalam nukleus, dan (3) gen kelas III (ditranskripsi oleh RNA polimerase kelas III), meliputi gen-gen yang mengkoede tRNA, 5S rRNA, dan beberapa RNA kecil yang ada di dalam nukleus. Perbedaan kelas gen tersebut mempunyai implikasi dalam hal struktural gen. (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

Ekspresi Gen pada eukariotik

  1. Mekanisme pengaturan ekspresi gen pada eukariotik

Pengaturan jenis dan jumlah protein yang terdapat dalam sel eukariotik berlangsung di sejumlah tahapan yang berbeda. Pertama-tama, perubahan dalam jumlah atau struktur gen dapat mempengaruhi jumlah atau jenis protein yang dibentuk didalam sel. Gen mungkin lenyap dari sel, jumlahnya meningkat, tersusun ulang, atau mengalami modifikasi secara kimia. DNA dapat berikatan dengansenyawa lain (misalnya histon) dan mengambil konformasi yang sulit ditranskipsikan.

Di tingkat transkripsi gen spesifik, elemen di dalam urutan DNA (disebut elemen sis) berikatan dengan factor lain yang dikenal sebagai elemen trans (biasanya protein) yang mendorong atau menghambat pengikatan RNA polymerase ke gen.

Pengaturan dapat terjadi selama pengolahan transkip RNA (hnRNA) menjadi mRNA matang. Tempat penyambungan alternatif untuk penambahan ekor poli A dapat menghasilkan mRNA yang berbeda dari hnRNA tunggal. (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

  1. Tidak adanya operon pada eukariot

Operon tidak terdapat pada eukariotik. Gen yang mengkode protein yang berfungsi bersama-sama biasanya terletak di kromosom yang berbeda. Misalnya, gen untuk rantai globin-α hemoglobin terletak di koromosom 16, sedangkan gen untuk rantai globin-β terletak di kromosom 11. Situasi ini berbeda di bakteri, diman gen yang mengkode protein yang berfunsi bersama-samaterletak berdampingan satu sama lain dalam operon. Operon diatur oleh sebuah promotor. (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

 

 

 

 

 

Perbedaan operon dan ekspresi gen tunggal :

Ekspresi Gen

Terletak Pada

Sifat

Pengendalian Ekspresi Gen

OPERON

Prokariot

Polisistronik

Terjadi pada arah transkripsi

GEN TUNGGAL

Eukariot

Monosistronik

Terjadi mulai transkripsi-pasca translasi

 

Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus pentosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus pentosa dari nukleotida yang lain. Perbedaan RNA dengan DNA terletak pada satu gugus hidroksil cincin gula pentosa, sehingga dinamakan ribosa, sedangkan gugus pentosa pada DNA disebut deoksiribosa. Basa nitrogen pada RNA sama dengan DNA, kecuali basa timina pada DNA diganti dengan urasil pada RNA. Jadi tetap ada empat pilihan: adenina, guanina, sitosina, atau urasil untuk suatu nukleotida. Selain itu, bentuk konformasi RNA tidak berupa pilin ganda sebagaimana DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan fungsinya.RNA tidak berpilin karena dari bentuk rantainya yang tunggal yang menyebabkan konformasinya tidak sama dengan DNA. (Perumus: BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

Sintesis RNA dari cetakan DNA disebut transkripsi. Transkripsi dikatalisis oleh enzim yang dikenal sebagai RNA polymerase. Mekanisme kerja RNA dan DNA polymerase sangat serupa, dengan satu perbedaan penting yaitu RNA polymerase dapat memulai sintesis untai baru. Sel bakteri memiliki satu RNA polymerase yang mentranskripsikan semua jenis RNA. Berlainan dengan prokariotik, sel eukariotik memiliki tiga RNA polymerase. Polymerase I mentranskripsi gen yang mengkode rRNA 5, 8S, 28S, dan 18S. Polymerase ini sering kali ditemukan berasosiasi dengan kromosom di dalam nukleolus. Polymerase II melakukan transkripsi dari promotor yang mengontrol sistesis pra-mRNA yang masih mengandung pengkode (ekson) dan daerah bukan pengkode (intron). Polymerase III hanya mengenali promotor yang mengontrol sintesis RNA yang relatif pendek, misalnya tRNA dan rRNA 5S dan sebagainya. Semua RNA polymerase memiliki mekanisme kerja yang sama. Namun, RNA polymerase mengenali jenis promotor yang berbeda.
(Perumus: Khittah Dea Anissa/10613303) (Provider: Indah Wahyutri/10613320)

Sebuah untai DNA berfungsi sebagai cetakan yang disalin dalam arah 5’ ke3’. Ribonukleosida trifosfat ATP, GTP, CTP dan UTP berfungsi sebagai prekusor yang membentuk pasangan basa dengan nukleotida komplementer pada cetakan DNA. Fosfat melekat ke gugus 5’hidroksil pada prekusor membentuk ikatan ester dengan gugus 3’hidroksil di ujung rantai RNA yang sedang tumbuh. Pelepasan pirofosfat dan pemutusannya oleh pirofosfatase untuk membentuk dua fosfat inorganik menghasilkan energi yang menjalankan reaksi polimerisasi.
(Perumus: Khittah Dea Annisa/10613303) (provider: Indah Wahyutri/10613320)

Karena RNA memiliki untai tunggal, mekanisme transkripsi RNA tidak serumit seperti pada replikasi DNA. Namun, cetakan DNA memiliki dua untai, akibatnya untuk setiap gen, RNA polymerase harus mampu menentukan untai mana yang akan ditranskripsi. Urutan pada DNA menentukan dimana RNA polymerase akan berikatan, seberapa sering dan seberapa kuat ia berikatan, dan dimana transkripsi gen dimulai. Urutan ini dikenal sebagai promotor (promoter), biasanya terletak dekat dengan titik dimana transkripsi dimulai titik mulai (startpoint). Urutan lain yang dikenal sebagai enhancer, juga mempengaruhi frekuensi transkripsi tetapi mungkin terletak cukup jauh, kadang-kadang berjarak ribuan nukleotida dari titik mulai (startpoint). (Perumus: Khittah Dea Annisa/10613303) (provider : Indah Wahyutri/10613320)

Urutan nukleotida pada suatu gen diwakili oleh huruf-huruf basa nitrogen pada untai pengkode dupleks DNA. Urutan tersebut tertulis dari kiri ke kanan dalam arah 5’ke 3’.Untai lain pada heliks DNA berfungsi sebagai untai cetakan yang sebenarnya digunakan oleh RNA polymerase selama proses transkripsi. Untai cetakan DNA bersifat komplementer dan anti paralel baik terhadap untai pengkode (bukan cetakan) DNA maupun terhadap transkrip RNA yang di hasilkan dari cetakan. Dengan demikian, untai pengkodepada DNA identik dalam urutan basa dan arah transkrip dengan RNA kecuali bahwa setiap untai DNA ini mengandung sebuah T, transkrip RNA mengandungU. Agar gen dapat diekspresikan,RNA polymerase harus mengetahui titik yang tepat untuk memulai transkripsi dan untai DNA yang akan ditranskripsi (untai cetakan). RNA polymerase juga harus mengenal gen mana yang harus ditranskripsi karena gen yang ditranskripsi tersebut hanyalah sebagian kecil dari gen total dan gen yang ditranskripsi berbeda dari satu jenis sel ke jenis lain dan berubah-ubah pada keadaan fisiologis. Sinyal pada DNA yang dikenali oleh RNA polymerase disebut promotor. Promotor adalah urutan pada DNA (sering disebut box atau elemen) yang menentukan titik mulai (startpoint) dan frekuensi transkripsi. Karena terletak pada molekul DNA yang sama dan dekat dengan gen yang promotor atur, promotor tersebut bersifat cis-acting (bertindak sebagai cis). Protein yang berikatan dengan urutan DNA ini dan mempermudah atau menghambat RNA polymerase dikatakan bersifat trans-acting (bertindak sebagai trans) karena protein tersebut dikode oleh gen yang berbeda dari gen yang ikut mereka atur. (Perumus: Khittah Dea Annisa/10613303) (provider: Indah Wahyutri/10613320)

Daerah promotor bagi polymerase I (pol I) terletak ke arah hulu dari situs start transkripsi. Sebuah kotak Hogness (kotak TATA) terletak dalam promotor sebagai analog eukariota dari kotak Pribnow prokariotik. Inisiasi sintesis RNA sangatlah spesifik-spesies, artinya dalam suatu spesies, satu atau lebih protein (esensial bagi proses transkripsi) mengenali promotor-promotor hanya dalam rDNA spesies yang sama. RNA polymerase II (pol II) memiliki faktor-faktor inisiasi spesifiknya sendiri bagi sintesis semua mRNA  eukariotik. Promotor-promotornya terletak ke arah hulu dari situs start masing-masing gen, tapi aktivitas promotor-promotor itu bisa ditingkatkan oleh sekuens-sekuens DNA yang tertaut secara fisil (dalam posisi cis) disebut enhancer. Enhancer bisa berfungsi dalam orientasi yang mana saja dan mungkin terletak di dalam,menghulu atau menghilir dari gen-gen targetnya (terkadang jaraknya jauh). Efek peningkatannya diperantarai oleh protein-protein pengikat DNA yang spesifik-sekuens. Dihipoetesiskan bahwa begituprotein pengikat DNA melekat pada sekuens enhancer, protein itu menyebabkan nukleotida-nukleotida yang menyela diantara enhancer dan promotor untuk mendorong keluar membentuk loop. Struktur loop tersebut lalu memfasilitasi pelekatan molekul-molekul RNA polymerase II ke promotor gen yang ditranskripsi. RNA polymerase II terus memperpanjang rantai mRNA melebihi sekuens-sekuens yang ditemukan dalam mRNA matang sebelum kemudian terjadi terminasi dipotong secara spesifik untuk membentuk 3’yang benar. (Perumus: Khittah Dea Anissa/10613303) (provider: Indah Wahyutri/10613320)

Mekanisme-mekanisme yang kompleks memastikan disingkirkannya intron-intron dari pra-mRNA (transkrip primer) dan disambung-sambungkannyaekson dalam urutan yang benar. Setelah itu, pra-mRNA eukariota mengalami sejumlah modifikasi kovalen sebelum dilepaskan dari nucleus sebagai molekul-molekul pembawa pesan (mesenger) dewasa. Enzim poli-A polimerase menambahkan (tanpa cetakan) rentangan panjang nukleotida adenin ke ujung 3’ masing-masing pra-mRNA sehingga terbentuklah ekor poli-A. Ujung-ujung 5’ memperoleh “tudung” (cap) dari nukleotida guanin yang tidak biasa (3’-G-5’ ppp5’-N-3’p). Sebuah gugus metil ditambahkan sesudahnya ke tudung guanin yang terbalik itu. Dengan demikian, baik ujung 5’ maupun ujung 3’ kebanyakan mRNA eukariotik memiliki gugus-gugus 2’-OH dan 3’-OH bebas pada gula-gula ribosa terminalnya. Ribosom eukariotik biasanya berikatan ke tudung mRNA dan kemudian bergerak menghilir sepanjang mRNA hingga menemukan kodon inisiasi AUG pertama dan memulai translasi disana. (Perumus: Khittah Dea Anissa/10613303) (provider : Indah Wahyutri/10613320)

Transkripsi berlangsung pada gelembung transkripsi, di daerah mana DNA untuk sementara membentuk dua rantai tunggal. Salah satu rantai, oleh RNA polimerase digunakan sebagai cetakan. Sambil RNA polimerase bergerak sepanjang DNA menyalin/mengimlah urutan spesifik DNA ke dalam urutan spesifik molekul baru RNA (sintesis RNA), gelembung tersebut juga bergerak bersama. RNA yang baru dibentukpun semakin panjang. (Perumus: Agus Sri Handayani/10613283) (provider: Agus Salim/09613131)

Bergeraknya gelembung transkripsi bersamaan dengan gerakan maju RNA polimerase karena sambil RNA polimerase bergerak sepanjang DNA cetakan, iapun turut mendenaturasi pilin ganda DNA dibagian depan gelembung dan merenaturasi kembali dibagian belakang gelembung.  Panjang gelembung transkripsi kurang lebih 18 pb, tetapi panjang daerah hibrida RNA-DNA di dalam gelembung itu lebih pendek. Pandangan klasik, melalui pembuktian tidak langsung, adalah sekitar 12 pb, walaupun belum pernah diukur secara langsung. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa basa pada RNA sedekat 3 pb dari titik pemanjangan dapat dipotong oleh ribonuklease yang mengenal RNA rantai tunggal. Dengan demikian, RNA masih berasosiasi dengan DNA hanya sepanjang 2-3 basa dari titik pertumbuhan rantai, setelahnya RNA berikatan sangat kuat dengan RNA polimerase. Jadi hibrida RNA-DNA sangat pendek, bersifat sementara, dan hanya cukup untuk memberikan stabilitas bagi reaksi-reaksi perpasangan basa yang menentukan spesifitas penambahan nukleotida diujung pemanjangan RNA. (Perumus: Agus Sri Handayani/10613283) (provider: Agus Salim/09613131)

Subunit-subunit RNA polimerase pada eukariot

Ketiga RNA polimerase pada eukariot merupakan enzim berukuran besar yang terdiri atas 12 subunit atau lebih. Gen-gen yang menyandi dua subunit terbesar mempunyai homologi satu sama lain. Sementara itu, ketiga RNA polimerase eukariot membawa subunit-subunit yang mempunyai homologi dengan subunit-subunit RNA polimerase inti pada E. coli (α2ββ’). Subunit terbesar RNA polimerase eukariot menyerupai subunit β’, sedangkan subunit terbesar kedua menyerupai subunit β, yang merupakan pusat katalitik RNA polimerase E.coli. Homologi struktur ini ternyata berkaitan dengan homologi fungsional karena subunit terbesar kedua pada RNA polimerase eukariot juga mengandung tapak aktif. Dua subunit yang sama antara RNA Pol I dan RNA Pol III, serta satu subunit lainnya yang khas pada RNA Pol II, memperlihatkan homologi dengan subunit α RNA polimerase E. coli. Sekurang-kurangnya ada lima subunit lainnya yang lebih kecil, yang memperlihatkan kesamaan di antara ketiga RNA polimerase eukariot. Masing-masing RNA polimerase ini juga membawa empat hingga tujuh subunit tambahan yang hanya dijumpai pada salah satu di antara ketiganya. (Perumus: Agus Sri Handayani/10613283) (provider: Agus Salim/09613131).

 

 

 

 

Aktivitas RNA polimerase eukariot

Seperti halnya RNA polimerase bakteri, masing-masing RNA polimerase eukariot mengatalisis transkripsi dengan arah 5’ ke 3’ dan menyintesis RNA yang komplementer dengan urutan DNA cetakan. Reaksi tersebut memerlukan prekursor berupa ATP, GTP, CTP, UTP, dan tidak memerlukan primer untuk inisiasi transkripsi. Namun tidak seperti pada bakteri, RNA polimerase eukariot yang dimurnikan memerlukan adanya protein inisiasi tambahan sebelum enzim ini dapat berikatan dengan promoter dan melakukan inisiasi transkripsi. (Perumus: Agus Sri Handayani/10613283) (provider: Agus Salim/09613131).

Proses Maturasi

Setelah DNA berhasil membuat RNA dalam proses transkripsi disebut RNA copy, proses berikutnya adalah maturasi yaitu capping, splicing dan penambahan poly(A)tail.

  1. Capping adalah proses perubahan lima primer mRNA menjadi tiga primer mRNA melalui pautan 5’-5’. Proses ini berguna agar mRNA dapat menempel pada ribosom dan menghindari terdegradasinya mRNA oleh enzim 5’ exonulcease.
  2. 2.      Splicing adalah membuang intron, bagian yang tidak memiliki kode (non coding region), sehingga mRNA hanya terdiri dari exon saja, yaitu bagian yang memiliki kode (coding region). Pada sel eukariot transkripsi terjadi satu kali dan mengkode sejumlah rangkaian mRNA yang tidak mempunyai intron. Proses ini dibantu oleh splicesome yang menempel pada intron, menjadikan intron melingkar dan memotongnya. Dengan demikian dua exon dapat bergabung.

3.      Penambahan poly(A)tail atau disebut polyadenilation adalah penambahan rangkaian mRNA pada bagian ujung 3’. Maksud penambahan ini untuk menghindari degradasi oleh 3’exonuclese, sehingga umur mRNA bertambah panjang. (Perumus: Agus Sri Handayani/10613283) (provider: Agus Salim/09613131).

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Tahapan transkripsi :
  • Inisiasi
  • Elongasi
  • Terminasi
  1. Bagian-bagian gen :
  • Upstream yaitu awal terjadinya transkripsi (stimulus dimulainya proses transkripsi).
  • Transcribed yaitu proses dimana terjadi kompleks RNAP pada transkripsi.
  • Downstream adalah proses terjadinya terminasi dan pelepasan rantai.
  1. Gen-gen ditranskripsi bersama-sama kesebuah untai mRNA dan baik diterjemahkan bersama dalam sitoplasma,atau menjalani trans-splicing untuk membuat mRNA monosistronik yang diterjemahkan secara terpisah, yaitu beberapa helai mRNA yang mengkodekan setiap produk gen tunggal.
  2. Polymerase I mentranskripsi gen yang mengkode rRNA 5, 8S, 28S, dan 18S. Polymerase II melakukan transkripsi dari promotor yang mengontrol sistesis pra-mRNA yang masih mengandung pengkode (ekson) dan daerah bukan pengkode (intron). Polymerase III hanya mengenali promotor yang mengontrol sintesis RNA yang relatif pendek, misalnya tRNA dan rRNA 5S dan sebagainya.
  3. Transkripsi adalah pembentukan mRNA (messenger RNA/RNA duta) dari salah satu pita DNA dengan bantuan enzim RNA polimerase.

 

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Elrod, Susan Ph.D. William Stansfiel,Ph.D, 2007. Schaum’s Outlines of Theory and Problems of Genetics, Fourth Edition, Erlangga, Jakarta
  2. Marks, Dawn B. Ph.D., Allan D. Marks, MD, Collen M. Smith Ph.D., 2000. Biokimia Kedokteran Dasar, Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  3. Anonim. 2010. Proses Ekspresi Gen dalam Organisme Bagian 1. Available at http://netsains.com/2010/03/proses-ekspresi-gen-dalam-organisme-bagian-1/ (diakses tanggal 10 Desember 2011)
  4. Sarmoko. 2011. From Gene to Protein, Molecular Biology 2011. Departmen of Pharmacy Unsoed. Yogyakarta
  5. e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara 1
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Transkripsi
  7. http://en.wikipedia.org/wiki/Operon
  8. http://genmulia.edublogs.org/files/2010/04/BAB-V-EKSPRESI-GEN.pdf
  9. http://biomol.edublogs.org/files/2010/02/BAB-V-TRANSKRIPSI.pdf
  10. http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-pdf/ekspresi%20gen%20ii%20pertemuan%20vii%20%5BCompatibility%20Mode%5D.pdf
  11. http://www.scribd.com/doc/53065986/TRANSKRIPSI
  12. http://www.scribd.com/doc/55223111/Sintesis-Rna-cenat-Cenut

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN DAN JAWABAN KELOMPOK 6/D

Pertanyaan Dewi Shinta Mandela/09613024

  1. Didalam transkripsi DNA terdapat bagian-bagian gen seperti upstream, transcribed dan downstream, jelaskan fungsi dari masing-masing bagian gen tersebut !
  2. Sebutkan perbedaan antara DNA dan RNA !
  3. Dalam biosintesis RNA, pemanjangan rantai nukleotida berlangsung arah 5′ à 3′ RNA. Jelaskan !

Jawaban:

1.

  1. Upstream yaitu awal terjadinya terjadinya transkripsi (stimulus dimulainya proses transkripsi). Pada proses ini enzim RNA polimerase (RNAP) akan mengkatalisis polimerase ribonukleotida menjadi rangkaian RNA yang bersifat komplementer terhadap untai cetakan gen. Enzim ini akan berikatan dengan promoter pada untai cetakan, kemudian akan diikuti oleh proses inisiasi sintesis RNA pada titik mula, elongasi rantai RNA, hingga tercapai rangkaian terminasi.
  2. Transcribed yaitu proses dimana terjadi kompleks RNAP pada transkripsi. Dengan adanya ATP+XTP akan terbentuk inisiasi rantai RNA yang kemudian terjadi pelepasan faktor sigma yang selajutnya akan terbentuk elongasi rantai RNA.
  3. Downstream adalah proses terjadinya terminasi dan pelepasan rantai. Saat rantai RNA telah lengkap maka RNAP akan dilepas dari cetakan.

2.

RNA DNA
Mengandung gula ribosa Deoxyribosa
Terdiri atas satu rantai nukleotida terdiri atas dua untai tersusun doble helix
Mol. Mengandung : urasilmonofosfat, sitidinmonofosfat, guaninmonofosfat timin adenin sitidin guanin
Berperan membawa informasi genetik pada sintesis protein merupakan materi genetik
Terdapat pada nukleus, nukleoplasma, sitoplasma terdapat pada kromosom, nukleoplasma, mitokondria, plastida, sentriol
Mengandung mol. Asam fosfat yang menghubungkan gula yang satu dengan yang lainnya sama
Fungsi berhubungan erat dengan sintesis protein penurunan sifat, sintesis protein

 

3.Semua asam-asam nukleat disintesis dari senyawa prekursor, nukleosida 5′ trifosfat, melalui reaksi kondensasi antara gugus 5′ trifosfat dari nukleotida yang datang mendekat pada kompleks DNA-RNA polimerase dengan gugus 3′-OH dari nukleotida terakhir yang ditambahkan ke dalam rantai RNA yang baru dibentuk. Akibat serangan nukleofilik ini, nukleotida yang datang kehilangan 2 gugus fosfat terminal (g dan b). Gugus fosfat pada posisi a digunakan dalam pembentukan ikatan fosfodiester dengan rantai RNA yang sedang disintesis.Dengan demikian, rantai RNA disintesis dari ujung 5′ kearah ujung 3′, dengan kecepatan reaksi ~40 nukleotida/detik pada suhu 37oC pada RNA polimerase bakteri.

Pertanyaan Agus Salim/09613131

  1. Sebutkan dan jelaskan tahapan proses transkripsi !
  2. Jelaskan transkripsi pada enzim polymerase I, polymerase II dan polymerase III !
  3. Didalam transkripsi terdapat bagian-bagian gen, yaitu upstream, transcribed, dan downstream. Jelaskan apa yang dimaksud dengan downstream !

Jawab:

1.

  • Tahapan pengakuan cetakan (template recognition)

Dalam tahapan pengakuan cetakan, RNA polimerase membentuk kompleks dengan rantai ganda DNA, ikatan hidrogen dilelehkan, dan menciptakan gelembung transkripsi.

  • Tahapan pengawalan (initiation)

Tahapan pengawalan mendeskripsikan pembentukan ikatan nukleotida pertama dalam RNA. Enzim RNA polimerase tetap berada di daerah promotor sambil mensintesis ~9 nukleotida pertama. Namun demikian, pembentukan nukleotida pendek ini terkadang mengalami keguguran (abortion), yaitu: enzim mensintesis transkrip kurang dari 9 basa, melepaskannya kembali, dan memulai kembali mensintesis RNA baru.

  • Tahapan pemanjangan (elongation)

Tahapan pemanjangan adalah selang selama enzim bergerak sepanjang DNA cetakan dan memperpanjang rantai RNA.

  • Tahapan pengakhiran (termination)

Tahapan pengakhiran melibatkan pengakuan titik dimana tidak ada lagi basa yang ditambahkan ke dalam rantai. Untuk mengakhiri transkripsi, pembentukan ikatan fosfodiester harus dihentikan, dan kompleks transkripsi harus dibubarkan. Sewaktu nukleotida terakhir ditambahkan akan diikuti oleh runtuhnya gelembung transkripsi, dan dilepaskannya hibrida RNA-DNA. DNA kembali ke keadaan rantai ganda, RNA dan enzim dibebaskan.

2.

  • Polymerase I mentranskripsi gen yang mengkode rRNA 5, 8S, 28S, dan 18S.
  • Polymerase II melakukan transkripsi dari promotor yang mengontrol sistesis pra-mRNA yang masih mengandung pengkode (ekson) dan daerah bukan pengkode (intron).
  • Polymerase III hanya mengenali promotor yang mengontrol sintesis RNA yang relatif pendek, misalnya tRNA dan rRNA 5S dan sebagainya.

3.

  • Downstream adalah proses terjadinya terminasi dan pelepasan rantai. Saat rantai RNA telah lengkap maka RNAP akan dilepas dari cetakan.

 

 

Pertanyaan Indah Wahyutri S./10613320)

  1. Jelaskan tentang operon ?
  2. Enzim apa yang mengkatalisis transkripsi ?
  3. Sinyal pada DNA yang dikenali oleh RNA polymerase disebut promotor. Apa itu promotor ?

Jawab :

  1. Operonadalah unitfungsiDNA genomikyang mengandungsekelompokgendi bawah kendalidari sinyalregulasitunggal ataupromotor
  2. Enzim  RNA polymerase
  3. Promotor adalah urutan pada DNA (sering disebut box atau elemen) yang menentukan titik mulai (startpoint) dan frekuensi transkripsi.

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.